Sebuah Eksplorasi Bahasa


Lorong Gelap dalam Bahasa
April 29, 2008, 10:47 pm
Diarsipkan di bawah: Puisi | Tag: , , ,

Si maut itu sudah datang membuat kamar dalam perutku. Ia membeli lemari baru, tempat tidur baru, meja dan lampu kamar.Ia juga memasang sebuah cermin. Si maut itu tidak pernah keluar dari kamarku. Setiap malam ia menyetel radio dan tv. Koran pagiku selalu diambilnya. Si maut itu, membuatku harus menggotong tubuhku sendiri untuk berdiri. Lemari goyah menahan berat tubuhku. Kamar seperti akan tenggelam ke dalam pagar-pagar jiwa. Si maut itu mengatakan, semua yang aku rasakan bukan milikku.

Aku bertengkar dengannya. Ia telah mengambil semua yang aku rindukan, semua mimpi-mimpiku. Si maut itu telah membuat kamar tidurku seperti sebuah gereja yang rusak. Seluruh penghuninya telah pergi. Lonceng berdentang seperti menggemakan lorong gelap dalam bahasa. Dan si maut itu membuat mulutku seperti peti besi. Kata-kata yang tak pernah lagi menemui anak-anak kucing bermain. Bulunya halus dan lembut, tubuhnya gugup menghadapi setiap gerak dari dunia luar. Ibunya datang, memanggilnya dengan suara yang datang dari lorong kematian dan kelahiran, menggigit lehernya, dan membawanya ke dalam sebuah kardus.

Si maut itu, api dari kaki-kaki bahasa.



BERI AKU KEKUASAAN
April 26, 2008, 9:38 am
Diarsipkan di bawah: Puisi | Tag:

Mereka pernah berjalan dalam taman itu, membuat wortel, semangka, juga pepaya. tetapi aku buat juga ikan-ikan plastik, angsa-angsa kayu dari Bali, juga seorang presiden dari boneka di Afrika. Kemana saja kau bawa kolonialisme itu, dan kau beri nama : Jakarta 1945 yang terancam. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa.

Kau lihat juga tema-tema berlepasan, dari Pulo gadung ke Sukarno Hatta, atau di Gambir : Jakarta 1957 yang risau. Sepatuku goyah di situ. Orang bicara tentang revolusi, konfrontasi Malaysia, Amerika dan Inggris dibenci pula. Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng dari Amerika, atau sampah dari Jerman.

Begitu saja aku pahami, seperti mendorong malam ke sebuah stasiun, membuka toko, bank dan hotel di situ pula. Kini aku huni kota-kota dengan televisi, penuh obat dan sikat gigi. Siapakah yang bisa membunuh ilmu pengetahuan siang ini, dari orang-orang yang tak tergantikan dengan apapun. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk kekuasaan. tetapi sepatuku goyah, menyimpan dirimu.

Mereka pernah masuki tema-tema itu, bendera terbakar, letusan di balik pintu, jerit tangis anak-anak, dan dansa-dansi di malam hari. Lalu : Siapakah yang mengusung tubuhmu , pada setiap kata…………

1991

Arsitektur Hujan,
Empat kumpulan sajak Afrizal Malna
November 1995



Rumah Orang Indonesia
Maret 27, 2008, 7:44 pm
Diarsipkan di bawah: Puisi | Tag:

 

 

Pagar besi beton batu bercampur palem-palem raja. Penjaga pintu gerbang belum tidur. Selamat pagi. Seekor kuda logam menonton TV katanya. Acaranya senam pagi dan menelepon penjual gas. Daun-daun kering jatuh di kolam renang, sedan mercy sedang dimandikan. Mana handuknya? Aduh jendela-jendela kaca itu. di sebelahmu patung perempuan pualam belum pernah pecah, ukiran pohon kelapa dari Bali, bunga-bunga kering, dan asbak-asbak besar. Caramu berjalan begitu ya katanya. Tangga melingkar. Bangunan tiga lantai sedang di cat lagi. Dua disel di lantai bawah tanah, seperti kuburan orang-orang tak bisa tidur. Mesin pendingin, kursi untuk hantu di lantai atas. Lukisan Diponegoro menunggang kuda dari bulu ayam, aduh berterbangan menutupi matamu. Aku belum bisa tidur katanya. Lampu-lampu kristal, 30 kamar tidur seperti mengambang di atas laut. Bangku karet gusa di tiap sudut. Telepon-telepon, relief-relief tembok, aku menggigit kaki kuda. Darahnya manis, seperti suaramu di balik lemari. Piano itu. meja makan kaca mengenang isi perut kambing. Lantai keramik memuja kakimu katanya, matahari di balik plastik hijau. Ada sirkus monyet anjing ular di ruang tamu. Sebuah dendam pada benda-benda, jadi arsitektur tak pernah selesai di susun. AC telah memecahkan kaca jendela. Kenapa belum dingin juga rumah ini katanya. Gading dan kaki-kaki gajah telah membeku, jadi meja tamu. Penjaga pintu gerbang belum tidur. Leher istrinya radang panas. Mari tersenyum, mari salaman, seperti kebudayaan timur dalam kipas angina. Makan telur mentah dari lemari es katanya. Aku pergi dulu. Besok kita jumpa lagi. Besok kita jumpa lagi.