Lorong Gelap dalam Bahasa

By qzink666

Si maut itu sudah datang membuat kamar dalam perutku. Ia membeli lemari baru, tempat tidur baru, meja dan lampu kamar.Ia juga memasang sebuah cermin. Si maut itu tidak pernah keluar dari kamarku. Setiap malam ia menyetel radio dan tv. Koran pagiku selalu diambilnya. Si maut itu, membuatku harus menggotong tubuhku sendiri untuk berdiri. Lemari goyah menahan berat tubuhku. Kamar seperti akan tenggelam ke dalam pagar-pagar jiwa. Si maut itu mengatakan, semua yang aku rasakan bukan milikku.

Aku bertengkar dengannya. Ia telah mengambil semua yang aku rindukan, semua mimpi-mimpiku. Si maut itu telah membuat kamar tidurku seperti sebuah gereja yang rusak. Seluruh penghuninya telah pergi. Lonceng berdentang seperti menggemakan lorong gelap dalam bahasa. Dan si maut itu membuat mulutku seperti peti besi. Kata-kata yang tak pernah lagi menemui anak-anak kucing bermain. Bulunya halus dan lembut, tubuhnya gugup menghadapi setiap gerak dari dunia luar. Ibunya datang, memanggilnya dengan suara yang datang dari lorong kematian dan kelahiran, menggigit lehernya, dan membawanya ke dalam sebuah kardus.

Si maut itu, api dari kaki-kaki bahasa.

Tag: , , ,

2 Tanggapan ke “Lorong Gelap dalam Bahasa

  1. fairus Berkata:

    mau tanya, mas. puisi lorong gelap dalam bahasa itu dibuat kapan, tahun berapa? saya melihat ada kemiripan dengan puisi sitok yang saya lupa judulnya dalam antologinya berjudul nonsens. persisnya pada kata ‘kamar dalam perutku’.
    maaf mas, saya diam-diam sedang meresensi beberapa karya2 penyair2, termasuk mas afrizal. tapi untuk buku “Abad yang berlari” saya sudah mencarinya di beberapa perpus di jogja tapi ga ketemu, saya juga melakukan pencarian di soping tapi hasilnya sama.
    mbok kalau ada referensi saya dikasih tahu, mas. syukur bisa ketemu langsung dengan mas afrizal.
    sebenarnya saya sudah sering ketemu dengan mas afrizal tapi saya segan untuk menyapa dan mengajak ngobrol..
    matur nuwun

  2. qzink666 Berkata:

    Puisi Lorong Gelap Dalam Bahasa masuk dalam buku kumpulan puisi “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing” yang di tulis dalam rentang tahun 1998-2001. Mengenai ada kemiripan, itu tidak bisa dihindari mengingat antara satu dengan penyair lain memang saling menginspirasi.
    Dan untuk buku Abad Yang Berlari, mohon maaf tidak bisa banyak membantu. Semoga mas Afrizal membaca komentar anda dan kemudian berbaik hati mengirim buku yang dimaksud, karena saya sendiri sama seperti anda, hanyalah salah satu penggemar beliau.
    Terimakasih

Tinggalkan Balasan