Wawancara Emilio Arauxo

By qzink666

Dear Afrizal Malna,

Karena saya tertarik dengan karya Anda, saya mengirimkan pertanyaan ini, supaya saya bisa memahami tulisan-tulisan Anda lebih baik dan menyebarluaskannya di Galicia, Negeri Troubadour ini. Jawaban Anda akan kami terbitkan dalam satu buku tentang puisi kontemporer. Buku ini akan diterbitkan oleh Noitarenga Publishing House of Santiago de Compastela.

Your sincerely
Emilio Araúxo Apdo. correos 9736500 LALĺN (pontevedra)
Spain
e-mail : maremil@teleline.es

Questions :

Bagaimana refleksi Anda tentang warisan bentuk-bentuk puisi dan nama-nama besar penyair Indonesia?

Beberapa penyair Indonesia seperti, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Rendra atau Sutardji Calzoum Bachri, masih memiliki kesempatan hidup dalam tradisi keluarga sebelum mereka menjadi seorang modernis dan mengikuti nasionalisme Indonesia lalu menggunakan bahasa Indonesia dalam menulis puisi. Mereka berhubungan cukup dekat dengan warisan budaya.Bentuk-bentuk tradisi di Indonesia seperti pantun, syair, mantra atau tembang masih bisa ditemukan dalam puisi-puisi mereka, terutama bentuk pantun dan mantra.

Di negeri kami seharusnya tidak lahir penyair-penyair modernis seperti Rustam Effendi atau Sutan Takdir Alisjahbana yang melakukan pemberontakan di Indonesia. Sebab tradisi kami memang sudah tercabik-cabik oleh masa penjajahan yang panjang yang kami alami. Amir Hamzah bahkan mengatakan sejak Malaka dikuasai Portugis, budaya Melayu hancur. Hancurnya budaya sama dengan hancurnya bahasa. Dan hancurnya bahasa sama dengan kematian puisi. Lebih lagi nasionalisme kami kemudian harus mengambil konsep persatuan lewat bahasa. Yaitu bahasa melayu yang digunakan untuk bahasa Indonesia. Dan kami mulai membaca serta menulis tidak dalam bahasa ibu kami. Puisi modern kami lahir dalam lingkungan budaya seperti ini, diantara kolonialisme dan modernisme yang melahirkan standar ganda, moral yang terbelah, orientasi dan ukuran yang terbelah pula. Tanah air intelektual mereka tidak berpijak dalam masyarakat mereka sendiri.

Puisi modern kami hidup dalam ketegangan antara masa depan masyarakat literer yang dibayangkan sebagaimana membayangkan kesusastraan modern pada umumnya yang hidup lewat berbagai penerbitan media cetak, lembaga-lembaga legitimasi, kritik sastra dan kehidupan akademisi dengan kenangan terhadap masa lalu dalam sikap yang mendua (diagung-agungkan juga dikecam sebagai kebudayaan yang kalah).

Saya mengalami hal yang cukup berbeda dengan mereka. Kebudayaan bagi saya adalah sesuatu yang hidup dalam diri saya dan sekitar saya. Konvensi-konvensi yang berlaku dalam diri saya dan masyarakat di sekitar saya, acuan-acuan nilai, kebiasaan-kebiasaan tak sadar, cita rasa, gaya hidup, cara berpikir dan mungkin juga cara saya bercinta, semua ini adalah berbagai pernik yang mengisi kehidupan budaya saya.

Melihat kebudayaan sebagai warisan adalah sebuah “gangguan” yang serius untuk saya. Saya lahir dan dibesarkan di Jakarta, sebuah kota terbesar di Indonesia dengan patahan sosial dan budaya yang tinggi karena mobilitas urbanisasi yang tinggi di kota ini. Tradisi keluarga hadir lebih sebagai halte-halte kecil dalam kehidupan saya, di mana saya tidak memiliki kontiunitas yang cukup untuk bisa hidup lewat cara-cara yang dikandungnya. Sebuah kehidupan yang retak, berjalan di atas jalan raya. Kebudayaan yang tidak pernah bisa tumbuh seperti tanaman. Saya tidak memiliki bahasa daerah, tidak sebagaimana sebagian besar orang Indonesia yang masih menggunakan bahasa daerah dalam keluarga maupun lingkungan pergaulan mereka. Saya bicara dengan bahasa Indonesia. Bahasa yang telah kehilangan akar budayanya yang diterima hanya sebagai alat komunikasi dan politik penyatuan di Negara saya.

Dengan latar belakang ini, warisan budaya yang terdapat di Negara saya lebih saya terima sebagai sesuatu yang berada di luar saya. Saya tak pernah bisa memasukinya, karena saya memang tak pernah hidup bersamanya. Saya hanya bisa mengambilnya sebagai teks yang terbuka untuk saya tafsirkan sesuai dengan kebutuhan saya .

Kadang-kadang saya menerimanya seperti sebuah karya baru, karena memang saya belum pernah melihatnya sebelumnya. Saya sering mengira mungkin para penyair yang menulis puisi lewat kebudayaan sendiri yang telah melahirkan berbagai generasi dalam masyarakatnya dapat menulis lebih mudah dan lebih jelas. Sedangkan yang saya alami sebaliknya. Gagasan-gagasan datang dengan liar, tidak punya ayah-ibu secara kultural. Dunia benda di sekitar saya jadi lingkungan semiotik yang sensitif. Warisan budaya menjadi sebuah buku yang tertutup, penuh misteri. Saya hanya bisa menggunakannya dengan cara merebutnya dan menempatkannya sebagai “orang ketiga” dalam puisi-puisi saya. Yaitu warisan budaya sebagai “dia” yang dibicarakan, dimanfaatkan atau yang ditempatkan dalam konteks berbeda.

Haruskah penyair menegaskan dan membuat peneguhan identitasnya sebagai penyair?

Puisi-pusi saya mulai saya terbitkan pada decade 80-an, yaitu ditengah-tengah suasana dimana kesusastraan Indonesia sedang berlangsung pembicaraan untuk kembali menggali akar tradisi. Perkembangan media komunikasi dan globalisasi memang jelas membawa kekhawatiran yang kuat terhadap kemungkinan terjadinya kekacauan identitas itu.

Identitas cenderung melekat pada mainstream yang menggerakkan pikiran masyarakat atau seseorang. Ketika internalisasi terhadap identitas itu macet, kehilangan aktualitasnya, identitas mulai membusuk dan menjadi gangguan untuk terjadinya perubahan. Kadang-kadang menjadi dangkal, artifisial dan turistik. Identitas yang saya kenal dalam kerja kepenyairan saya adalah kebutuhan mengenali berbagai gejala budaya yang berpengaruh dalam lingkungan semiotik di sekitar saya. Yaitu pengaruhnya terhadap mitos, ideologi maupun perilaku. Seorang penyair yang menegaskan identitas bisa dilihat dalam dua kemungkinan. Pertama memang mungkin ada krisis yang berlangsung dalam mainstream atau orientasi sastra yang sedang berkuasa. Kedua, si penyair mungkin tidak yakin dengan puisi-puisi yang ditulisnya sendiri. Artinya identitas hanya penting dinyatakan oleh penyair hanya dalam rangka sebagai kritik kebudayaan yang dilakukannya ke masyarakat.

Bersambung……….

Tag: ,

Satu Tanggapan ke “Wawancara Emilio Arauxo”

  1. yantysa Berkata:

    wah bagus ya kak blog nya…

    jangan lupa kunjungi blog saya ya kak

    yantysa.wordpress.com

Tinggalkan Balasan