Wawancara Emilio Arauxo Part. 2

By qzink666

Siapa yang disasar oleh puisinya? Bagaimana pendapat anda tentang mitra dialog atau pihak yang disasar puisi itu?

Pertanyaan ini paling sulit untuk bisa saya jawab. Saya pernah percaya puisi ditulis untuk publik pembaca. Tetapi publik pembaca itu dibentuk oleh banyak media dan pasar. Karena itu demokrasi dan kualitas media serta pasar sangat menentukan publik pembaca. Nasionalisme dan kepemimpinan nasional yang tidak memiliki imajinasi, tidak memiliki impian dan ilusi membuat sastra hidup di lahan yang kering. Sastra membutuhkan cinta dan romantisme seperti ini. Membutuhkan masyarakat yang memiliki media yang dikerjakan oleh tangannya sendiri, dan bisa menjadi alat pengorganisasian, kebanggaan, serta tempat menyimpan berbagai pengalaman dan memori-memorinya.

Mitra dialog menjadi penting untuk saling mengenal, membuka pembatas-pembatas spesialisasi untuk terjadinya berbagai pertemuan. Menurunkan kesusastraan dari klaim-klaim budayanya. Membebaskan sastra dari hegemoni para sastrawan. Dn untuk terjadinya pencarian dan banyak blok-blok komunikasi yang telah membeku oleh berbagai bentuk hubungan yang terperangkap dalam lingkungan spesialisasi maupun konvensinya sendiri.

Prinsip-prinsip apa yang menjadi pegangan anda dalam membaca puisi anda di depan publik?

Setiap saya berdiri di depan publik untuk membaca puisi-puisi saya, saya sering merasa sedang berdiri di depan kegelapan. Memori saya hanya merekam beberapa orang yang saya kenal yang mungkin berada di antara publik pembacaan puisi saya. Saya sangat gelisah dan terasing. Saya harus memaksakan diri memastikan diri saya dalam pembacaan itu hanya karena justru inilah medan saya. Medan di mana orang datang untuk mendengar puisi-puisi yang saya bacakan.

Saya berusaha membayangkan mereka sekuat mungkin dengan cara mendengar kembali suara saya kata demi kata dari puisi yang saya bacakan. Merasakan tubuh saya masih hidup. Merasakan ada waktu yang bergerak. Karena itu harus ada yang hidup dan tumbuh juga dalam diri saya. Pada saat itulah sebenarnya terjadi seamacam reaktualisasi terhadap puisi-puisi yang saya bacakan lewat perkembangan emosi saya detik demi detik, kata demi kata, bait demi bait, puisi demi puisi hingga saya menemukan diri saya kembali dalam keadaan rileks, bebas, seperti burung yang terbang di dalam panggung pembacaan pusi, dan ikan-ikan berenang-renang di bawahnya. Ada langit, mungkin berwarna biru, dengan kontras putih, ada bukit-bukit dan orang-orang yang menemukan ruang geraknya sendiri dalam sebuah kebersamaan di sebuah tempat yang sama.

Bagaimana pendapat anda tentang hubungan antara puisi dengan berbagai bentuk kesenian lainnya?

Hal ini sangat berhubungan dengan mobilitas seniman untuk berhubungan dengan kesenian-kesenian lain yang bukan bidangnya. Saya berhubungan dengan banyak bidang kesenian. Puisi-puisi saya banyak digunakan untuk pertunjukan teater, seni lukis, musik, tari, dan film. Untuk saya yang penting dalam hubungan ini, yaitu terjadinya berbagai pertemuan, berbagai kerja sama dan model kerja. Saling menyadari keterbatasan media masing-masing. Dan kemungkinan untuk lebih banyak lagi yang bisa dilakukan secara bersama-sama dibandingkan dengan mengerjakannya seorang diri.

Setiap puisi bisa dilihat sebagai sebuah gagasan maupun sebagai materi untuk kerja kesenian lainnya. Saya lebih suka berhubungan dalam kerja sama seperti ini daripada saya harus tampil seorang diri membacakan puisi-puisi saya.

Bersambung…

Tag: ,

Tinggalkan Balasan