|
Di Athena, Wianta membicarakan kekecewaanyaTerhadap negeri ini…….. Kutipan di atas merupakan salah satu kiriman sms yang dikirim Hanafi setelah kembali dari Athena dengan beberapa seniman, akhir tahun ini, kepada saya. kalimat yang sepotong-sepotong seperti itu, yang tidak selesai, sering di lakukan hanafi. Kalimat buntung, tetapi memberikan ruang terbuka untuk kita keluar masuk ke dalamnya. Kalimat yang terkesan tidak berpenghuni, tetapi juga tidak kosong. Kalimat tanpa pemilik, karena sang otoritas tidak merampungkan dirinya. Catatan Afrizal Malna: Pameran Hanafi Dive Into
Orang bilang, akhir perjalanan sebuah karya lukisan berada di dinding pameran. Dinding itulah yang akan menentukan dirinya. Di balik dinding itu ada eksekusi: lembaga otoritas kesenian, media massa, lembaga legitimasi, par akurator dan kolektor, para krtisi, dan akhirnya ia di boyong pembeli. Di ambil dari kehidupan publik oleh otoritas pasar. Kesenian dan pasar seperti dua sektor yang tidak pernah bertemu dalam ketegangan ini. Padahal melalui dua sektor inilah proses kualitas kehidupan publik dan individu saling menentukan. Kehidupan senirupa hanafi juga berada dalam ketegangan ini. Kota tidak memiliki karya-karyanya, bahkan juga tidak memiliki karya-karya peluksi lain, kecuali patung-patung militer yang dia anggap sebagai pahlawan besar. Dan kalimat-kalimat buntungnya tiba-tiba sering nyelonong lewat sms, seperti sebuah gerimis di pagi hari. Kadang seperti sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Karena hanafi, sesungguhnya, hanya membuat ruang bagi kehidupan impresi-inpresi, momen puitik, atau semacam langit yang membuat warna biru yang lain sehabis hujan turun. Hampir sebagian besar pengamat berpendapat lukisan-lukisan hanafi berada dalam kanal ekspresionisme abstrak. Jim Supangkat, lewat kajian teoritis terhadap konsekuensi-konsekuensi visual dari abstrakisme hanafi, mencoba mengambil langkah lanjut dengan melihat bahwa yang di lakukan hanafi lebih semacam dekontruksi terhadap abstrakisme dengan masuknya metode minimalis yang di lakukan hanafi terhadap karya-karyanya. Tugas pelukis tidak semata-mata memenuhi bidang kanvas dari format kanvas yang telah di putuskannya. Tugas pelukis mengubah bidang menjadi ruang, membangun garis dan sapuan menjadi kalimat-kalimat visual, membuat metafor dari warna, dimana setiap sentuahan di atas bidang itu membawa berbagai konsekuensi visual. Kira-kira semacam inilah Jim Supangkat melihat bagaimana hanafi memperlakukan bidang sebagai arkeologi ruang, awal ruang membuat representasi baru. Pilihan abstrakisme membuat representasi lukisan-lukisan hanafi berlangsung tidak lagi linier terhadap kenyataan. Akses terhadap kenyataan seakan-akan di hentikan, tetapi tidak berarti ia bersifat dekoding terhadap kenyataan. Representasi visual kemudian memasuki rekaan-rekaan abru yang menggoda kegelisahan kita atas steorotip-steorotip visual yang terlembaga dalam memori kesenian kita, termasuk steorotip visual dari mainstream abstrakisme. Di era lukisan-lukisan naratif dewasa ini, yang berkembang di Indonesia, era dimana seni lukis menjadi sangat luas dalam mengakses kenyataan-kenyataan sosial politik, tema-tema dengan identitasyang bisa ditemuakn dalam kehidupan bersama kita., abstrakisme seakan-akan hadir kembali tidak sebagai sejarah, melainkan sebagai kuburan. Dan hanafi membawa kuburan itu terbuka kembali untuk di baca: perang kode seperti apa sebenarnya yang sedang di lakukan hanafi dengan abstrakisme-nya dalam kehidupan politik seni rupa kita? Atau, ia sebenarnya sedang melakukan sebuah perdamaian baru? Perdamaian baru yang di lakukan lewat garis, blok, sapuan dan warna yang seakan-akan saling membangun struktur dalam lukisannya. Tetapi juga sebaliknya ada garis, blok, sapuan dan warna yang melarikan diri keluar dari pusat struktur lukisan-lukisannya. Dan sebaliknya ada garis, sapuan, blok dan warna yang datang dari luar mendekat ke pusat struktur. Struktur tidak menjadi satu-satunya pusat kekuatan dalam emmbuat figur visual. Visualisasi dalam luksian-lukisanny, dalam kenyataan ini, merupakan usaha yang kaut untuk merepresentasikan fiksi dalam ruang. Fiksi tentang gerak dan waktu. Lukisannya tidak membuat pusat di dalam ruang. Atau pusat tidak lagi merepresentasikan kekuatan figure. Ada sektor-sektor lain yang cukup mendapatkan bidang unutk berbicara dan membuat kalimat-kalimat kecil, kalimat buntung yang tidak selesai, bening dan sederhana. Kalimta-kalimat kecil di antara warna-warna besar. Sebuah fiksi dengan perpecahan cerita-cerita kecil di dalam bidang-bidang besar. Struktur yang memusat dan melarikan diri itu membebaskan kemungkinan bidang melakukan figurasi Terhadap impresi-impresi visual dalam seni lukis hanafi. Kita tidak tahu garis yang melepaskan diri dari structural dalam lukisan itu akan menuju kemana. Pelarian itu pun tidak membuat komposisi menjadi dunia yang gelisah, sebab pelarian itu cenderung berlangsung sebagai pelarian dalam harmoni. Pelarian yang tidak merusak pusat struktur. Pelarian yang membuat klimaks tidak berada pada level tertentu di dalam struktur, melainkan di luarnya. Represenatasi ruang seperti itu, yang memecahkan pusat lewat kalimat-kalimat kecil, memungkinkan lukisan Hanafi Untuk tidak mengabdi semata-mata Terhadap dunia interior. Struktur yang memecah, yang tidak membuat figurasi, justru membuat lukisannya menjadi semacam dermaga yang memfasilitasi mobililtas bertemunya unsur-unsur eksterior dan interior. Lukisannya menjadi arsitektural dengan pembagian ruang lewat garis dan sapuan di antara warna-warna besar. Pembagian ruang ini kadang juga terwujudkan dalam bentuk satu lukisan yang dipecah lewatbeberapa bidang kanvas, menjadi semacam instalasi. Tidak cukup berhenti di situ, tiba-tiba ada kalimat dari huruf-huruf yang bisa di baca dalam lukisannya. Atau tiba-tiba muncul figure-figur dengan reperensi yang identitasnya cukup jelas, seperti sebuah box atau lingkaran tanda bahaya misalnya. Membaca lukisan Hanafi tidak hanya menikmati warna sebagai ruang, garis sebagai rekaan visual, tapi juga sebagai moment berhadapan dengan ruang secara actual dimana kegelisahan Terhadap posisi berubah menjadi gerak. Dimensi arsitektural pada lukisan-lukisannya membuat lukisannya menjadi semacam poros sirkulasi ruang dalam bangunan yang di tempatinya. Kehadirannya dalam bangunan tidak lagi mengesankan sebagai suatu benda asing yang di datangkan dari luar Untuk menjadi pusat perhatian di dalamnya. Ia membuat ruang seperti memiliki dua pintu. Proyeksinya tidak terletak pada perspective visual, melainkan pada pemecahan ruang. Konsekuensi visual seperti gambar di atas justru mengesankan bahwa Hanafi tidak melakukan minimalisasi dalam kerja kesenirupaannya ia justru membuat kepenuhan yang lain. Warna biru yang kosong, justru menajdi ruang yang sangat massif oleh birunya, sehingga tidak memerlukan lagi figure-figure yang lain, yang hanya membuat kalimat-kalimat cerewet dan kesepian. Gallery Canna jakarta 2004
|
|
Catatan Afrizal Malna: Pameran Hanafi Dive Into
Agustus 10, 2008 oleh qzink666Kata, Bahasa dan Puisi Di Mata Afrizal Malna
Agustus 7, 2008 oleh qzink666Kata adalah lembaga komunikasi yang paling susah dipegang, bobrok dan busyet. Bahasa mungkin merupakan ciptaan manusia yang paling punya banyak masalah. Dunia refren–yang tinggal dalam memori kita atau pelebelan sosial (stereotipe), seperti seekor ular yang siap mengintai dan siap menerkam setiap teks.
Teks yang dibikin siapa pun tidak berdaya di bawah tatapan kekuasaan stereotipe, pikiran yang telah menjadi bangkai di kursi kekuasaan kata. Kematian penulis adalah sebuah republik baru untuk demokrasi rekreasi teks. Atau sebuah perdamaian baru di dalam mulut anjing yang lapar dan kreatif untuk mencari tulang (bahkan bangkai plastik pun dianggap tulang). Teks merepresentasi kenyataan sesuai dengan binatang yang hidup dalam pikiran kita.
Bahasa adalah dunia binatang dalam mulut kita. Suaranya kadang-kadang terdengar aneh. Suara dari seekor binatang yang baru saja membunuh, tapi dia menganggap pembunuhan itu biasa, karena kalau tidak membunuh dia kelaparan dan tidak mau mati.
Puisi adalah binatang yang tercekik dalam mulut botol. Orang membaca dan menulis puisi untuk memecahkan botol itu. Kadang binatangnya ikut mati.
-Afrizal Malna-
Kalung Dari Teman
Agustus 5, 2008 oleh qzink666Hari ini saya sedang bahagia. Saya duduk di sebuah restoran dengan seorang teman lama. Kami berusaha saling membagi cerita. Tapi kemudian saling tahu, kami tetap berada dalam kereta berbeda. Dari jendela kami hanya saling melongok. Kenapa tidak bisa saling berbagi halaman? Ada nomor teleponnya dalam kantong baju saya, sebuah sungai di bawah bantal. Tiba-tiba waktu seperti binatang buas. Taring-taring bahasa mengintai kami dari balik jendela.
Makanan yang kami pesan telah datang. Ada kuburan waktu di sana, jam 12 malam dalam tubuh saya. Siapa yang telah mati dengan cara begini? Pelayan restoran meletakkan lembaran nota di meja makan kami, tak peduli dengan kuburan itu. Di luar saya lihat sebuah bangunan baru telah berdiri lagi. Saya menggapai-gapai dirimu, seperti bahasa yang mengubahmu terus-menerus.
Saya genggam tangannya, teman saya seperti gerimis di luar jendela. Membasahi daun-daun di halaman, membuat pot untuk waktu. Di luar, kereta telah berlalu, meninggalkan kami di peron yang sama. Tetapi matanya seperti ingin memanggil seluruh orang, ingin membenarkan dirinya tumbuh bersama waktu. Ingin melihat air mata kata-kata. Ingin membuat puisi dari genggaman lengan bayi. Melihat taring-taring bahasa membuat untaian kalung permata di leher kami.
Lalu saya lihat asap putih keluar dari mulut saya. Menjadi api. Membakar apa saja di sekitar saya. Api itu ikut membakar kami berdua. Saya dan teman saya menjadi kalung api. Lalu pergi meninggalkan restoran itu. Restoran yang telah kami bakar. Api bahasa terus berkobar-kobar, seperti tanaman api, yang sepanjang masa ingin kau padamkan.
1997